Rakom RUYUK yang Hijau

Hari Sabtu pagi, 26 Maret 2011, kami berangkat ke Tasikmalaya dari arah Bogor. Kami akan pergi ke radio komunitas (Rakom) Ruyuk di desa Mandalamekar dalam rangka mencari bahan penelitian saya. Perjalanan ke Tasikmalaya ditempuh sekitar 7 jam, dilanjutkan perjalanan ke desa Mandalamekar melalui jalan berbatu sekitar 1 jam. Jalan berbatu, menanjak-menurun, serta berkelok sepanjang 11 km menyajikan pemandangan khas desa. Empat desa yang dilalui dikelilingi oleh pohon-pohon. Saat kami akan melewati salah satu jalan menanjak, di depan mobil kami ada mobil angkutan desa yang berhenti karena bannya selip. Mobil angkutan berjenis minibus tersebut penuh dengan barang-barang hasil tani. Beberapa penumpang laki-laki mencoba mendorong dan memberi air pada tanah di bawah ban. Cukup lama para penumpang mencoba mendorong mobil tersebut, sehingga akhirnya mobil itu berhasil melewati tanjakan berbatu. Hanya ada 2 mobil angkutan desa yang melewati jalan desa tersebut. Tidak heran bila mobil angkutan desa selalu penuh dengan barang dan penumpang. Saat mobil kami akan melewati tanjakan yang sama, mobil angkutan tersebut berhenti di depan untuk memastikan apakah kami bisa melewatinya. Khas penduduk desa, sangat perhatian terhadap orang lain!

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan sirna ketika kami tiba di desa Mandalamekar. Kami disambut oleh para pengurus Rakom Ruyuk, Irman Meilandi, Yana Noviadi, dan beberapa pengurus lainnya. Suasana desa yang asri, hijau dan sunyi menemani perbincangan kami di rumah kepala desa, Yana Noviadi. Sambil berdiskusi, kami menikmati makanan lokal yang disajikan oleh masyarakat desa. Mereka terbiasa bergotong royong menyajikan makanan lokal jika kedatangan tamu, yang disebut dengan budaya ngaliwet (masak bersama). Budaya ini juga dilakukan saat ada pertemuan bersama pengurus Rakom atau masyarakat.

Rakom Ruyuk (arti Ruyuk: semak belukar ) didirikan oleh beberapa tokoh masyarakat desa Mandalamekar. Mereka mendirikan Rakom untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang konservasi hutan dan sumber mata air. Sebelumnya, hal ini telah dilakukan melalui komunikasi tatap muka. Namun, untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas dan mengkomunikasikannya lebih intensif, didirikanlah Rakom Ruyuk.  Sesuai motonya, Leuweung Hejo Rayat Ngejo, Leuweung Ruksak Rayat Balangsak (Hutan Lestari Rakyat Makmur, Hutan Gundul Hidup Rakyat Pasti Susah), Rakom Ruyuk memberikan informasi tentang pentingnya hutan bagi kehidupan. Di desa Mandalamekar terdapat 78 hektar hutan lindung atau mata air dan tanah desa (Karang Soak–30 hektar) sebagai sumber kehidupan. Contoh informasi lain yang disampaikan kepada masyarakat desa adalah tidak menjualbelikan pohon aren yang tumbuh alami di desa Mandalamekar. Tanaman ini masih dikembangbiakkan oleh binatang, seperti musang. Tapi, masyarakat dapat memanfaatkan pohon aren, yaitu buahnya (kolang-kaling) dan daunnya (ijuk). Melalui Rakom Ruyuk, masyarakat desa juga diinformasikan untuk tidak berburu burung.

Rakom Ruyuk diharapkan menjadi media alternatif dalam memberikan informasi, pendidikan dan hiburan antar warga desa, termasuk para remaja dan pemuda. Ada kekhawatiran di kalangan orangtua akan hilangnya budaya dan bahasa lokal akibat arus informasi media massa. Untuk memberikan kesadaran akan budaya dan bahasa lokal, Rakom Ruyuk menyiarkan program bahasa Sunda ”Ngamumule Bahasa Sunda” yang diasuh oleh Dedeh Nur Resmiati (Ambu Pohaci). Siaran bahasa Sunda diharapkan menghasilkan perilaku dan berbahasa yang halus.

Adapun salah satu siaran budaya lokal, adalah “Cianjuran” yang dinyanyikan secara life oleh 3-4 perempuan, diiringi oleh permainan kecapi dan seruling. Lagu-lagu Cianjuran berisi, antara lain, tentang nasehat, taat untuk beragama, dan keindahan alam. Walaupun saya tidak mengerti artinya, namun “konser” life ini begitu syahdu, menyentuh dan merdu didengar. Sangat disayangkan bila lagu-lagu Cianjuran ini punah karena para pemuda enggan mempelajarinya. Apalagi, informasi yang saya dapatkan, hanya ada seorang pemain kecapi di desa Mandalmekar.

Untuk menunjang pengetahuan dan keahlian para petani, Rakom Ruyuk menyiarkan program Penyuluhan Pertanian. Awalnya, para petani melakukan proses tani secara alami dengan teknologi yang konvesional, sehingga mereka hanya mendapatkan rasa capai, tanpa hasil tani yang optimal untuk dijual. Adanya informasi pertanian dari Rakom Ruyuk, petani lebih maju dalam teknologi pertanian dan hasil taninya mempunyai nilai jual. Pada siaran interaktif ini, tidak semua pertanyaan petani dapat dijawab segera oleh penyiar. Terkadang penyiar menjadikan pertanyaan tersebut sebagai pe-er (pekerjaan rumah). Penyiar mencari informasinya dari buku atau referensi lain, lalu disampaikan jawabannya ke petani pada siaran berikutnya. In merupakan tantangan bagi pengurus dan para penyiar untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi sesuai kebutuhan masyarakatnya. (EB)

Advertisements

About emiliabassar

PR Professional, lecturer, undertaking doctoral degree at University of Gadjah Mada
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s