Resensi buku “Salah Pilih” karya Nur Sutan Iskandar

Beberapa waktu yang lalu, anak saya, Lauda, 12 tahun, mendapat tugas meresume buku sastra. “Wah, bagus dong. Ibu ada tuh buku sastra di rumah Ninik,” kata saya antusias. Lauda bilang,”Aku sudah pinjam kok dari perpustakaan  sekolah.” “Boleh Ibu lihat, Nak?,” tanya saya ingin tahu. Tak lama kemudian Lauda memberikan buku tersebut. Judulnya “Salah Pilih” karya Nur Sutan Iskandar. Lalu saya membuka halaman 1. Di situ ada percakapan antara seorang Ibu tua yang sedang sakit dengan perempuan setengah baya, Masniah, dan perempuan muda, Asnah. “Wah, menarik juga buku ini.” Saya melanjutkan ke halaman berikut…hingga tak terasa saya menyelesaikan buku tersebut hampir tengah malam.

Buku Nur Sutan Iskandar menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda kaya dengan seorang gadis yatim piatu yang diangkat anak oleh orangtua si pemuda. Cerita dimulai dari seorang Ibu bernama Mariati yang tinggal di rumah besar  (rumah gedang) di Sumatera Barat. Ibu Mariati ditemani oleh Masniah, serta seorang anak angkat yang lembut dan penuh kasih sayang bernama Asnah.

Cerita menjadi menarik ketika anak kandung bu Mariati, Asri, yang sedang sekolah di negeri seberang (Batavia) akan pulang ke kampung. Kepulangan Asri membawa kegembiraan bagi Ibunya dan Asnah. Asri tidak akan melanjutkan sekolah di negeri seberang karena mengikuti nasehat Ibunya agar tinggal di kampung. Tapi, kepulangan Asri membawa kegelisahan bagi Asnah, yang diam-diam mencintai kakak angkatnya. Ya, Asnah hanyalah anak angkat yang diadopsi oleh Ibu Mariati dari sepasang suami istri yang telah meninggal.

Tak lama tiba di kampung, Asri mendapat pekerjaan sebagai clerk di instansi pemerintah setempat. Betapa senang hati Ibunya dan Asnah. Ibu Mariati kemudian  meminta Asri menikah.

Dalam proses mencari calon istri, Asri meminta pendapat Asnah. Sebagai seorang adik, Asnah berusaha memberikan pendapat yang membuat kakaknya bahagia. Namun, kegalauan melanda Asnah. Apalagi ketika Asri memilih Saniah, puteri bangsawan, sebagai istrinya. Bu Mariati dan Asnah merasa sedih akan pilihan Asri. Saniah dinilai mempunyai perilaku yang tidak baik, sombong dan membedakan golongan manusia. Sikap dan perilaku Saniah merupakan hasil didikan ibunya, Rangkayo Soleah. Sementara Asri adalah pemuda yang baik dan sayang pada keluarganya. Walaupun demikian, Asnah berjanji pada bu Mariati untuk menjaga kedamaian di rumah gedang.

Pada masa pernikahan, seringkali terjadi pertengkaran antara Asri dan Saniah. Beberapa kali Saniah mengusir Asnah, sehingga membuat bu Mariati merasa sedih. Walaupun Asnah adalah anak angkat, tapi bu Mariati selalu memperlakukan Asnah layaknya anak kandung. Asri pun marah pada Saniah karena perilaku Saniah yang kasar terhadap Asnah. Hal tersebut semakin membuat Saniah benci dan cemburu pada Asnah.

Perasaan sedih membuat bu Mariati sakit cukup lama, dan akhirnya meninggal dunia. Wafatnya bu Mariati membuat Saniah merasa bebas di rumah gedang. Apalagi ibunya mendukung langkah Saniah untuk mengusir Asnah. Akhirnya Asnah pergi dan tinggal jauh dari rumah gedang.

Kepergian Asnah tidak membuat perilaku Saniah berubah. Dia semakin curiga dan marah pada Asri yang beberapa kali terlambat pulang dan terkadang tidak pulang. Saking marahnya, Saniah pergi tanpa pamit pada suaminya ke rumah ibunya. Tiba di rumah ibunya, Saniah dan ibunya pergi keluar kota untuk menemui saudaranya. Di perjalanan, mobil mereka mengalami kecelakaan yang menyebabkan Saniah dan ibunya meninggal dunia.

Tak lama setelah Saniah meninggal, Asnah dan Asri pun menikah. Namun, pernikahan mereka mendapat ejekan dari orang-orang di kampung, karena Asnah dan Asri dianggap satu suku. Untuk menghindari cemoohan dan fitnah, mereka pindah ke Jakarta. Suatu hari, mereka mendapat kabar dari orang kampung bahwa Asri dipilih menjadi kepala kampung. Akhirnya, mereka pulang ke kampung dan hidup bahagia.

Kebaikan versus kejahatan. Kebaikan akan mendapat kebahagiaan. (EB)

About emiliabassar

PR Professional, lecturer, undertaking doctoral degree at University of Gadjah Mada
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s